PENJAGA BATAS NKRI ( sebuah nilai pengorbanan )

“Permisi mas, saya duduk di kursi 8A dan 8B ” pinta mas mas dengan istri dan anaknya yang masih kecil. “Oh iya,silahkan “,bergegas aku berdiri dari kursi dan aku taruh intisari yang baru saja kubuka. Si mas dengan sigap menaruh tas nya dilaci kabin, dan mengambil botol susu dan termos isi air panas, kemudian diberikan ke istrinya. Setelah mereka duduk, aku kembali duduk dikursiku .
Kutengok anak itu gelisah, sambil menangis anak itu bertanya, “kita mau pergi kemana ma?”,Dengan suara pelan ibunya menjawab “Kita mau menengok nenek di Jawa, adik tidak boleh menangis ya.. nanti dimarahi sama mbak pramugari lho”. Dengan masih gelisah, anak itu mulai berhenti menangis ( tapi masih sesenggukan ). Aku cuma tersenyum saja melihat polah tingkah anak itu. Sambil memasang kembali ‘seatbelt’, kusapa si mas di sebelahku, ” Mau kemana mas”. Dijawab sama si mas dengan datar.. “Mau ke tangerang mas, datengin undangan nikah kerabat, terus lanjut ke Jawa Tengah menengok orang tua”. “Oh lama berarti ya mas liburan nya, berapa hari?” sambungku. “Cuti dapat 16 hari mas, jadi setelah ke undangan pernikahan, sekalian kita mau pulang ke Jawa, kebetulan sudah lama saya tidak pulang mas.. sudah kangen ibu saya”.

“Lha mas ini mau kemana kok pakai batik ?”. Si mas ganti bertanya ke aku. “Oh iya mas, saya juga mau datengin undangan pernikahan kerabat di Jakarta , tapi cuma sehari aja. Nanti sore langsung pulang “. Jawabku sambil melihat sendiri baju batikku yang kupakai ( iya ya baru sadar. hari minggu kok pakai batik,kutengok kanan, kiri..belakang, hanya aku yang pakai batik , ah..biar aja namanya juga mau jagong ). Obrolan pagi itu berlanjut sampai beberapa saat. Kebetulan si mas juga antusias bercerita, dan ternyata si mas adalah Tentara yang selalu bertugas di garis depan, sudah berulang kali bertugas di daerah konflik; papua, aceh, ambon, dan terakhir sempat berdinas di perbatasan utara Indonesia.

Dengan penuh semangat, dia bercerita bahwa semasa masih bujangan, tidak ada yang berat bagi dia. Tugas kemana saja dia jalani dengan enteng. Tapi semenjak berkeluarga,semua terasa lebih berat. Tugas keluar ke garis depan,meninggalkan keluarga bertahun tahun menjadi sebuah ujian yang tak terelakkan. Banyak cerita tak enak selama berdinas di garis depan, tapi yang paling terasa adalah sewaktu dinas terakhir menjaga perbatasan utara negeri ini. Medan yang sangat berat, masih hutan belantara, logistik susah didapat dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Ditambah lagi saat dia harus berangkat dinas ke perbatasan, sang istri sedang hamil tua. Dan saat dia pulang, anak itu sudah besar, berumur 15 bulan dan sudah belajar berjalan.

Si mas bercerita, pertama kali melihat anaknya, yang dia rasakan adalah canggung dan takut. Takut menerima kenyataan jika anaknya tidak akan mengenali dia sebagai bapaknya. Perlu adaptasi beberapa hari sampai anak itu benar benar mengerti dan merasakan kehadiran sang bapak. Dan pada suatu hari, akhirnya anak itu memanggil dengan panggilan “BAPAK”, sebuah momen paling indah yang sangat ditunggu tunggu oleh sang bapak. Dengan terbata bata, si mas bercerita bahwa sekarang, istri dan anaknya lah penyemangatnya selama berdinas di garis depan .Tak terasa, terdengar announcement pilot yang menginformasikan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat. Kulihat si bapak berganti memangku anaknya yang sedang tertidur lelap dipangkuan ibunya.

“Sudah sini ma, biar bapak yang pangku adik, mama tidur saja , nanti kalo mau landing bapak bangunin”. Kubuka kembali intisariku yang belum sempat kubaca karena keasyikan ngobrol dari tadi. Mata tertuju ke buku, tapi pikiran menerawang tinggi ke awan. Begitu besar pengorbanan seorang prajurit yang harus mengabdikan diri di garis depan dan diwaktu yang sama juga harus menjadi seorang bapak yang selalu mengayomi keluarganya. Bersyukur bisa dipertemukan dengan si mas yang rendah hati, bersahaja, bertanggungjawab, selalu nrimo pasrah, dan tetap sayang dengan keluarga.
Kulirik mereka bertiga disampingku, ketiganya tertidur lelap dengan senyum bahagia.
Sekejap kemudian si anak itu tiba tiba membuka matanya, menatapku sambil tersenyum ( hanya beberapa detik )…, dan tak lama kemudian diapun tertidur lagi di pundak bapaknya.

bpn_101117

 

23376454_10212381195739851_6581960629002286214_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s