PENJAGA BATAS NKRI ( sebuah nilai pengorbanan )

“Permisi mas, saya duduk di kursi 8A dan 8B ” pinta mas mas dengan istri dan anaknya yang masih kecil. “Oh iya,silahkan “,bergegas aku berdiri dari kursi dan aku taruh intisari yang baru saja kubuka. Si mas dengan sigap menaruh tas nya dilaci kabin, dan mengambil botol susu dan termos isi air panas, kemudian diberikan ke istrinya. Setelah mereka duduk, aku kembali duduk dikursiku .
Kutengok anak itu gelisah, sambil menangis anak itu bertanya, “kita mau pergi kemana ma?”,Dengan suara pelan ibunya menjawab “Kita mau menengok nenek di Jawa, adik tidak boleh menangis ya.. nanti dimarahi sama mbak pramugari lho”. Dengan masih gelisah, anak itu mulai berhenti menangis ( tapi masih sesenggukan ). Aku cuma tersenyum saja melihat polah tingkah anak itu. Sambil memasang kembali ‘seatbelt’, kusapa si mas di sebelahku, ” Mau kemana mas”. Dijawab sama si mas dengan datar.. “Mau ke tangerang mas, datengin undangan nikah kerabat, terus lanjut ke Jawa Tengah menengok orang tua”. “Oh lama berarti ya mas liburan nya, berapa hari?” sambungku. “Cuti dapat 16 hari mas, jadi setelah ke undangan pernikahan, sekalian kita mau pulang ke Jawa, kebetulan sudah lama saya tidak pulang mas.. sudah kangen ibu saya”.

“Lha mas ini mau kemana kok pakai batik ?”. Si mas ganti bertanya ke aku. “Oh iya mas, saya juga mau datengin undangan pernikahan kerabat di Jakarta , tapi cuma sehari aja. Nanti sore langsung pulang “. Jawabku sambil melihat sendiri baju batikku yang kupakai ( iya ya baru sadar. hari minggu kok pakai batik,kutengok kanan, kiri..belakang, hanya aku yang pakai batik , ah..biar aja namanya juga mau jagong ). Obrolan pagi itu berlanjut sampai beberapa saat. Kebetulan si mas juga antusias bercerita, dan ternyata si mas adalah Tentara yang selalu bertugas di garis depan, sudah berulang kali bertugas di daerah konflik; papua, aceh, ambon, dan terakhir sempat berdinas di perbatasan utara Indonesia.

Dengan penuh semangat, dia bercerita bahwa semasa masih bujangan, tidak ada yang berat bagi dia. Tugas kemana saja dia jalani dengan enteng. Tapi semenjak berkeluarga,semua terasa lebih berat. Tugas keluar ke garis depan,meninggalkan keluarga bertahun tahun menjadi sebuah ujian yang tak terelakkan. Banyak cerita tak enak selama berdinas di garis depan, tapi yang paling terasa adalah sewaktu dinas terakhir menjaga perbatasan utara negeri ini. Medan yang sangat berat, masih hutan belantara, logistik susah didapat dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Ditambah lagi saat dia harus berangkat dinas ke perbatasan, sang istri sedang hamil tua. Dan saat dia pulang, anak itu sudah besar, berumur 15 bulan dan sudah belajar berjalan.

Si mas bercerita, pertama kali melihat anaknya, yang dia rasakan adalah canggung dan takut. Takut menerima kenyataan jika anaknya tidak akan mengenali dia sebagai bapaknya. Perlu adaptasi beberapa hari sampai anak itu benar benar mengerti dan merasakan kehadiran sang bapak. Dan pada suatu hari, akhirnya anak itu memanggil dengan panggilan “BAPAK”, sebuah momen paling indah yang sangat ditunggu tunggu oleh sang bapak. Dengan terbata bata, si mas bercerita bahwa sekarang, istri dan anaknya lah penyemangatnya selama berdinas di garis depan .Tak terasa, terdengar announcement pilot yang menginformasikan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat. Kulihat si bapak berganti memangku anaknya yang sedang tertidur lelap dipangkuan ibunya.

“Sudah sini ma, biar bapak yang pangku adik, mama tidur saja , nanti kalo mau landing bapak bangunin”. Kubuka kembali intisariku yang belum sempat kubaca karena keasyikan ngobrol dari tadi. Mata tertuju ke buku, tapi pikiran menerawang tinggi ke awan. Begitu besar pengorbanan seorang prajurit yang harus mengabdikan diri di garis depan dan diwaktu yang sama juga harus menjadi seorang bapak yang selalu mengayomi keluarganya. Bersyukur bisa dipertemukan dengan si mas yang rendah hati, bersahaja, bertanggungjawab, selalu nrimo pasrah, dan tetap sayang dengan keluarga.
Kulirik mereka bertiga disampingku, ketiganya tertidur lelap dengan senyum bahagia.
Sekejap kemudian si anak itu tiba tiba membuka matanya, menatapku sambil tersenyum ( hanya beberapa detik )…, dan tak lama kemudian diapun tertidur lagi di pundak bapaknya.

bpn_101117

 

23376454_10212381195739851_6581960629002286214_n

BANDUNG PAGI ITU

Pagi itu seperti biasa setelah bangun pagi , jam setengah 6 aku keluar dari lobby hotel tempat aku rapat acara kantor . Kuambil napas dalam dalam menghirup udara pagi sambil kulangkahkan kaki menuju taman di kota kembang . Kususuri jalan yang bersih dan rapi. Bunga warni warni di pinggir jalan , bunga gantung yang terawat rapi terlihat sangat menyejukkan hati ,ditàmbah kursi taman yang nyaman dan ayunannya. Tidak terasa sudah hampir setengah jam aku berkeliling, jalan yang awalnya masih lengang kini sudah mulai menunjukkan denyutnya. Kendaraan mulai hilir mudik di jalan yang masih basah sisa hujan semalam.

Beberapa orang terlihat joging di taman yang asri . Beberapa terlihat ada yang duduk duduk di kursi taman bercengkrama dengan beberapa temannya. Ada pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak dagangannya. Kuhampiri bapak itu dan bertanya , ” permisi pak, mau nanya kalau Gedung sate jauh ndak ya dari sini ?. “. “Oh.. agak jauh mas.. mas jalan aja ke arah kanan.. kira kira 3 kilo lah. Lumayan mas. Tapi jam segini disana udah ramai , banyak yang poto poto “. Jawab si bapak. ” Makasih pak “.. kulanjutkan langkahku mengelilingi taman kota itu. Kuurungkan niatku ke gedung sate , 3 kilo?.. kaki dah mulai capek , keringat sudah mulai membasahi bajuku. Akhirnya kudapati kursi taman kosong. Kuberhenti sejenak dan duduk menikmati taman dan melihat lalu lalang kendaraan yang mulai banyak.
Tak lama , ada seorang bapak bapak dengan baju training datang menghampiriku. ” Maaf mas , mau nanya boleh ?. “. ” Oh Silahkan pak “.jawabku. “begini mas , saya itu dari luar kota baru datang tadi malam , saya mau tanya , mas tahu Pusdai?..” tanya si bapak itu. ” pusdai pak?.. oh saya pernah kesana pak. Tapi saya lupa jalannya. Saya juga bukan orang asli sini kok pak ” jawabku. Kemudian dia mulai memperkenalkan diri , asalnya dari daerah sumatra, tapi sudah lama kerja di timur tengah di bagian perminyakan. Katanya , dia sebagai wakil dari perusahàan minyak dan dapat tugas dari perusahaannya untuk memberikan dana hibah ke masjid masjid di wilayah indonesia. Siapa saja yang membutuhkan pembiayaan pembangunan masjid, renovasi, yayasan islam, pesantren..asal ada proposal dan disetujui oleh bapak itu maka perusahaan akan mengucurkan dana hibah.

Tak lupa si bapak mulai menawarkan program hibah itu ke saya. Tapi saat itu aku masih pikir pikir sambil menyelami cerita si bapak.Tak lama setelah itu kebetulan lewatlah seorang bapak dengan memakai topi, dengan sigap, si bapak dari sumatra itu memanggil ” pak maaf, mau nanya bapak tahu Pusdai di mana ya “. “Oh. Saya tahu pak ( jawab si bapak bertopi ). Bapak mau ke pusdai ? Kebetulan rumah saya dekat pusdai. Kita bisa bareng kesana “( lanjut si bapak bertopi). Kemudian si bapak dari sumatra mengajak aku untuk ikut nemani dia. Karena sudah terlanjur kenal dan ngobrol, maka kuputuskan untuk ikut si bapak ke pusdai. ( sekalian jalan jalan menurutku, mumpung masih pagi, jalan belum macet ).

Sejurus kemudian si bapak sudah dijemput sama sopirnya. Kemudian kita bertiga terlibat obrolan yang menarik di dalam mobil. Si bapak yang dari sumatera tersebut kembali menceritakan tentang dirinya bahwa dia adalah perwakilan dari perusaahan minyak di timur tengah yang sudah beberapa tahun bertugas memberi dana hibah ke masjid masjid di Indonesia. Sedangkan si bapak bertopi bercerita kalo dia adalah pengusaha properti di jakarta.
Jam di tangan masih menunjukkan pukul 06.10 waktu itu. Jalanan masih lengang. Setiba di pusdai kita terlibat perbincangan seputar dana hibah untuk masjid dan si bapak dari sumatra semakin intens menawarkan program itu ke saya. Tiba di suatu waktu, dia mengajak bapak ber topi untuk mampir ke atm dekat pusdai untuk menunjukkan saldo rekening tabungan perusahaannya yang berisi uang 100 milyar. Biar meyakinkan kita, si bapak minta kita untuk membuktikan kalo di rekeningnya ada dana sebesar itu. Setelah dari ATM, kita bertiga jalan lagi naik mobil kembali ke taman kita tadi bertemu . Tapi di perjalanan aku minta berhenti sebentar di depan gedung sate, lumayanlah bisa minta dipotoin sama si bapak .

Setelah poto poto sebentar , kita jalan lagi ke arah taman kota. Di dalam perjalanan di mobil, si bapak dari sumatra semakin intens bertanya apakah aku membawa atm , dan dia ingin tahu kira kira bisa tidak atm ku nanti bisa menerima transfer dana hibah dari dia. Hmmmm.. mulai detik itu , aku langsung sadar bahwa aku semobil dengan komplotan penipu.( otak berpikir kencang) Dengan tenang aku jawab. ” Saya kebetulan tidak bawa dompet pak, bisa antar saya ke hotel dulu buat ambil atm. Setelah itu kita bisa transaksi ke atm buat mencairkan dana hibah buat masjid saya di kalimantan, kebetulan masjid di kampung saya sedang renovasi dan saya kenal dengan pengurus masjidnya” ( padahal dompet dan hp ada di kantong celana ). Sejurus kemudian kita tiba di hotel. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih sudah diantar ke hotel. “Tunggu saya sebentar ya pak, saya minta nomer hp nya. Siapa tahu nanti saya agak lama ke kamar hotel”.

Bergegas aku naik ke kamar. Kubuka pintu kamar dan kutelpon si bapak. ” pak maaf saya tidak bisa masuk kamar.. kunci dibawa teman saya.. jadi saya tidak bisa ambil atm dan dompet saya, Lain kali aja ya pak.. nanti saya hubungi”.Dan dengan menutup telponnya si bapak bilang ‘ ok mas.. lain kali aja ya hubungi saya. Hmmm.. hampir saja kena tipu sama komplotan penipu. Beruntung aku bisa berpikir tenang dan tidak panik. Setelah beberapa hari, aku telpon nomer si bapak..sudah tidak akti sampai sekarang. Hanya poto di depan gedung sate lah saksi bahwa aku pernah di potoin sama komplotan penipu .
#tetepelinglanwaspodo#
#nipupenipu #

17523095_10210492880933161_4259160090508383560_n

Pak Eko ( dan cita citanya menjadi pilot )

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30, tapi rapat baru saja selesai. Kulihat catatan jadwal penerbanganku, jika tidak segera ke airport, pasti aku akan terjebak macet dan bisa bisa ketinggalan pesawat ( lagi ).Segera kuminta tolong teman buat pesan uber, sambil kurapikan laptop dan file file ku, kutinggalkan kantor sore itu dengan segera, si driver ternyata sudah menunggu di depan parkiran.
Setelah berpamitan dengan beberapa teman, kubuka pintu avanza warna hitam yang kelihatan masih baru. Disapa aku dengan ramah oleh si bapak. “Selamat siang mas, mau ke airport ya?”. Kujawab pelan “iya pak, tapi mampir ke hotel dulu ya, saya mau ambil koper saya”. ” Siap pak ” jawab si bapak sambil minum air dari botol aqua yang sisa separoh dan kemudian dia simpan lagi di pintu mobil. Rambut si bapak yang hampir putih sebagian tidak membuat si bapak kelihatan tua. Cara mengemudi yang lincah dan postur tubuh yang tegap menutupi usianya yang tidak lagi muda. Tak lama kita tiba di hotel, kuambil tas dan segera kami melanjutkan perjalanan ke airport. ” Pak bisa agak cepet nggak ya, takut ketinggalan pesawat nih “.Jawab si bapak ” siap mas “.

Dengan sigap satu dua mobil di depan di lewati sama si bapak , beruntung jalanan waktu itu tidak terlalu macet. Dengan lincah si bapak memacu mobilnya lebih cepat. “Mas ke terminal berapa?” Kujawab ” terminal 3 pak”. Waktu berjalan begitu cepat, tak lama mobil sudah dekat airport, tapi antrian sangat panjang. Sibuk sekali bandara ini ‘gumamku’.Sambil menunggu antrian masuk ke bandara, kucoba menyambung obrolan dengan pak sopir. Kutanya ” sudah berapa tahun pak bawa mobil ? “. ” Oh ..saya tua dijalan mas, dari muda saya sudah bawa mobil, mulai dari sopir bis, truk kontainer sampai sopir taxi sudah saya jalani. Kalo saya PNS mungkin 3 tahun lagi saya pensiun mas”. Jawab pak sopir yang belakangan baru ngasih tahu kalo namanya pak Eko.

Trus kutanya lagi, ” lha dulu awalnya gimana pak , kok bisa bawa mobil sampai sekarang?”. ” Wah cerita nya panjang mas. Saya orang kampung mas, asal Temanggung. Lulus sma, waktu itu saya ke jakarta nglamar kuliah di Curug, pengennya jadi pilot mas. Habisnya tetangga saya waktu itu ada yang jadi pilot, kalo pas pulang kayaknya gagah gitu mas, trus keren mas, gajinya pasti juga gedhe. Makanya saya diajak temen saya setelah lulus sma nekat ke jakarta daftar di plp curug. Tapi nasib berkata lain mas, saya gagal masuk sementara temen saya dari kampung lulus mas. Dia sekarang dah terbang di luar negeri mas,jarang pulang ke Indonesia. Tapi walaupun begitu pertemanan kita masih terjaga sampai sekarang. Dia masih suka telpon saya nanya nanya kabar,katanya dia pengen tinggal di Indonesia aja , biar bisa kumpul keluarga katanya.

Walaupun ndak jadi pilot, tapi saya bersyukur bisa kumpul anak istri,masih bisa ngasih nafkah keluarga, biar dikit yang penting berkah mas. Trus anak saya bentar lagi lulus sma ,semoga bisa nyekolahin sampai tinggi mas. Kalo sekolahnya tinggi kan bisa agak gampang nyari kerja yang enak mas”. Aku hanya diam mendengarkan cerita, giliran mau nanya, si bapak malah terus nanya ” Lha mas nya ini ngastho dimana?.. “. “Saya kerja di Bandara pak . Di Kalimantan “. Oh.. lha dulu kok bisa kerja di Bandara, kuliahnya dimana . ” di Curug pak, tapi bukan Pilot ” kujawab pelan. ”

Oalah, sampeyan lulusan Curug ya.. “wah selamat yo mas, itu cita cita saya dari dulu yang ndak kesampaian “. “Iya pak, saya doakan nanti anak bapak yang mau lulus SMA bisa masuk ke Curug, biar bisa nerusin cita cita bapaknya”…. Bersyukur rasanya dulu bisa kuliah , ternyata banyak orang yang bercita cita kuliah disana , beruntung dulu dapat kesempatan itu. Menerawang aku ke masa lalu,begitu banyak kenangan dan liku liku hidup yang sudah kujalani. Tak terasa mobil sudah berhenti di terminal 3 ” sudah sampai pak “. “Oh iya pak, terima kasih ya pak sudah diantar” jawabku. ” Iya mas.

Hati hati di jalan” sambil menyalamiku. Setelah selesai check in terdengar panggilan boarding ,buru buru kupercepat langkahku menuju ruang tunggu. Terima kasih pak Eko , hari itu kau pahlawanku.

Petugas Upacara

Hari itu kebetulan hari senin.
Pagi pagi..si sulung dah ceria sambil memakai baju putih putih. Si bapak bertanya “lho kok putih putih lagi. Senin minggu kemaren kan sudah pake putih putih? “.Sambil memakai sepatu, si sulung menjawab”minggu lalu hujan pa,tidak ada upacara,jadi minggu ini ya masih giliran kelasku yang dapat jatah petugas upacara. Nanti anterin ya pa, hari ini ndak naik sepeda ya. kan kalo jadi petugas upacara tidak boleh terlambat !”.
Di perjalanan, si bapak bertanya kepada si sulung “nanti jadi petugas upacara bagian apa mas?” “Sebenarnya mau nya jd pemimpin upacara pa, tapi ndak kepilih ,pak guru ndak milih aku. Tapi temenku yang kepilih memang memang lebih bagus pa. Ndak papa lah. Nanti kalo kelasku dapet giliran lagi aku mau coba lagi biar jadi pemimpin ” jawab si sulung. Hmm.. “Trus.. kamu nanti dapet giliran jadi petugas apa mas? ” Tanya si bapak lagi.” Jadi pembaca UUD 45 pa “jawab si bungsu . “Wah hebat, jadi pembaca UUD45 juga ndak gampang lho, harus punya suara lantang, tegas dan harus punya intonasi bagus, pasti pak guru nunjuk kamu karena kamu dianggap mampu. Kira kira kamu bisa ndak nanti mas?” Tanya si bapak lagi. “Bisa pa..aku dah latihan terus kok” dijawab dengan yakin oleh si sulung.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. “Ya udah pa.. doain ya. ( sambil turun dari motor, si sulung salim cium tangan ) .Setelah melihat si anak masuk ke sekolah, bergegas si bapak segera pulang kerumah karena si bungsu nungguin diantar sekolah juga.
Setelah sampai dirumah, sambil minum teh dan singkong yang masih panas, si bapak duduk di teras sambil nunggu si bungsu selesai pake baju sekolahnya. Bentar lagi giliran nganter si adik ke sekolah TK dekat rumah.
Si kecil memang beda dengan si kakak, belum begitu paham arti tanggung jawab.. kadang mau sekolah, kadang juga males malesan. Sekolah nya tergantung mood. Lagian juga masih TK A , setiap hari harus selalu nanyain si bungsu.. mau sekolah atau ndak ?..Dan pagi itu seperti biasa setelah bangun pagi si bungsu sebenarnya ndak mood sekolah. “Masih ngantuk” katanya. Tapi karena sudah 2 hari bolos sekolah..tiba tiba dia kangen temennya.. “aku mau masuk sekolah. Aku mau mainan sama temen temenku” kata si bungsu.
Habis nganter si bungsu, penasaran si bapak pengen lihat si sulung jadi petugas upacara. Ditengoknya jam tangan,” hmm masih jam 7.30 ,upacara baru dimulai nih “gumam si bapak. Kemudian sejurus kemudian meluncurlah si bapak ke sekolah si sulung. Sambil ngintip di pagar sekolah.. diikutinya upacara pagi itu dari luar pagar. Murid murid rapi berbaris,dengan baju merah putih ,topi dan dasinya, petugas upacara memakai seragam berbeda,seragam putih putih dengan peci hitam dan lambang garuda di ujungnya .

Setelah pengibaran bendera yang lancar serta koor lagu mengheningkan cipta terdengar sangat sahdu,tiba giliran pembacaan UUD45. Si sulung memulainya dengan tegap. Dibacanya dengan lantang , intonasinya lumayan, tidak terbata bata. Alhamdulillah lancar. Lega perasaan si bapak melihat si sulung sudah mulai tumbuh dewasa, mulai belajar apa arti tanggung jawab. Kemudian si bapak tiba tiba teringat masa masa kecilnya dulu sewaktu sekolah SD .Setiap ditunjuk jadi petugas selalu keringat dingin.. kadang gagap pas jadi pemimpin upacara. Hmm pernah juga suatu hari ingat si bapak , dia pernah jadi petugas pengibar bendera. Giliran memasang tali , ternyata salah masang tali pengikat. trus pas bendera dibentangkan.. bendera kusut,teman yang narik ujung bendera juga kebingungan..malu banget. Pengalaman yang sangat lucu dan masih terus diingatnya sampai sekarang.
Dan di pagi itu si bapak merasa bangga bisa menyaksikan si sulung pertama kali menjadi petugas upacara . Walau hanya menjadi petugas pembaca UUD45 , ini adalah tugas pertama dia , masih panjang dan berat tanggung jawab si sulung nantinya .Si bapak hanya bisa berdoa semoga selalu bisa mendampingi dan melihat si sulung tumbuh dewasa dan tumbuh menjadi laki laki yang bertanggung jawab.
#proudtobeafather#

15966192_10209810858803034_4515238517143305279_n

Semangkuk mie ayam yang sangat bermakna

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring sekali siang itu. Tet..tet..tet..Akupun berlari berhamburan keluar kelas balapan dengan teman temanku. Tidak ada tas sekolah di punggung… tidak ada kotak nasi dan tempat minum yang dijinjing. Hanya satu buku tulis yang kulipat dan kukantongin di celana , tanpa sampul dan sedikit kumal.
Tidak ada satupun dari kita yang dijemputin.. semua jalan kaki..memang beberapa temenku ada yang naik sepeda. Sepeda jengki,bukan sepeda federal ataupun fixie,itupun biasanya karena rumah mereka jauh.

“Assalaamualaikum.. mak,masak nopo mak?.”
Waalaikum salam.. wes mantuk nang ?.. wes gek ndang ganti baju.. trus maem..” ( mak ku yang masih di dapur dengan celemek nya nyauri ).” Iya mak”.. segera setelah ganti baju.. kubuka serodongan diatas meja. Hmm.. ada tempe.. ikan asin dan sayur “bobor ” kesukaanku. Kuambil nasi..tempe satu .ikan asin satu dan sayur bobor banyak banyak. ” tempenya jangan dihabisin ya.. mengko masmu sama mbakmu ndak kebagian.. “. Kujawab.. ” iya mak..”. Biasa.. karena kita empat saudara..dan masakan emak tidak pernah lebih, semua harus berbagi.

Walau kadang aku suka dapat jatah yang lebih. ( 2 tempe ).. karena aku yang paling bungsu..dan kakakku maklum semua .”lha wong cuma tempe”. asal jangan nambah ikan asin aja. Memang waktu itu masa masa sulit bapak menafkahi keluarga. Waktu itu.. sedang musim wabah wereng,banyak petani dikampung termasuk bapak tidak bisa panen seperti tahun tahun sebelumnya.

Hasil panen tahun ini hanya cukup untuk makan sehari hari. Padi yang hampir panen tinggal separo yang bisa dipanen.. separonya dimakan wereng. Hmmm kasihan bapak..aku yang waktu itu masih 11 tahun belum bisa membantu apa apa di sawah. Keseharianku hanya asyik dengan sekolah dah main dengan teman sebayaku.
Selesai makan waktunya bantu bantu emak di dapur.. panci..piring segunung sudah menunggu. ( maklum.. mak ku setiap pagi jualan bubur sumsum di pasar,jadi panci bekas masak bubur yang dari kuningan,panci yang dari tembaga ,belum panci panci kecil.. suthil.. saringan..piring gembreng.. dan aneka alat dapur yang akupun tak tahu namanya ).Diatas dingklik kecil aku duduk.. dikelilingi cucian alat masak setumpuk.. ah.. “mumpung masih siang.. kuselesaikan dulu kerjaan cuci mencuci ini.. biar nanti sore bisa ke lapangan main bola..sore nanti.. final pertandingan sepak bola tujuh belasan antar kampung”.

Sambil megang penggosok panci dari ‘sepet’.. kubilang sama mak..” mak..nanti sore boleh main bola?..”.Dijawab mak ” kok bal balan terus tho le.. mbok neng omah wae leren..opo ora kesel “. Kujawab ” mengko final bal balan mak.. timku mlebu final..lawan kampung sebelah.. sayang kalo ndak main mak,kalo menang nanti mau minta hadiah sepatu bola sama bapak “. Hmm.. “yowes.. nek wes rampung cuci piring.. kamu boleh ke lapangan sana.. nanti tak bilangin ke bapakmu..biar dibeliin sepatu bola kalo kamu menang.. tapi ndak janji ya.. sepatu bola itu mahal yo le.. “. ” iya mak..aku ngerti “. Dalam hati.. aku berangan angan.. alangkah asyiknya nanti kalo aku punya sepatu bola. Maklum kita setiap hari main bola nyeker.. tanpa alas kaki. Sudah biasa pulang dari lapangan kaki lecet lecet nendang kerikil..dan juga kotor kena lumpur dan debu.
Dan sore itu.. akhirnya trophy juara agustusan lomba sepak bola jadi milik kita. Susah payah kita menang adu penalti.. warga 2 kampung semua nonton di lapangan yang kecil itu. Dan akhirnya kita pulang dengan senyum dan tawa lebar. ( aku sudah membayangkan bakal dibeliin sepatu bola sama bapak ).
Setelah maghriban di masjid.. aku bilang sama mak. Mak..bapak mana?. ” oh..pulang dari masjid tadi langsung ke sawah le.. jatahnya jaga air di sawah.. malam ini sawahnya bapak yang dapet giliran dapat air dari waduk”. Lha ada apa tho.?. “Ndak kok mak.. mau bilang aja.. tadi kita menang main bola.. aku mau bilang ke bapak.. minta dibeliin sepatu bola”. Oh.. “tadi udah mak bilang ke bapak.. katanya..” bapak belum punya uang,belum bisa beliin sepatu bola..màaf yo le” ( jawab mak). Aku duduk termenung di teras samping rumah, kubayangkan sepatu baru si agus warna putih yang dibelikan bapaknya tadi sore. Dengan tulisan spotec disamping. Hmm. Alangkah asyiknya kalo aku pakai sepatu bola baru seperti itu. Ah.. sudahlah.. aku ndak boleh ngiri sama temen temenku.
Kudengar suara sepeda berhenti di depan rumah. Kayaknya bapak sudah pulang dari sawah. Ingin aku nanya ke bapak.. tapi takut dimarahin. Karena mak sudah bilang tadi kalo bapak lagi belum punya uang. Kuurungkan niatku. Aku masuk ke kamar.. kurebahkan badan di ‘amben’ yang tidak ada kasurnya. Tiba tiba bapak masuk ke kamar.. ” le..ayo ikut bapak”. Segera aku bangun ..dan kujawab..” iya pak..kemana ?”. ” wes.. ayo tho ikut aja ” jawab bapak. Diboncengnya aku dengan sepeda “unto nya “. Sesampai di samping kampung. Bapak berhenti. ” sudah sampai..ayo turun “.

Setelah sepeda distandarin.. bapak teriak ” likmin ..mie ayam 2 .. es teh 1 “. Hmm.. setelah semangkuk mie ayam datang. Bapak bilang.. ayo dimakan ,kamu laper kan.. habis main bola tadi sore”. Dalam hati.. aku senang.. ndak nyangka bapak yang selalu sibuk banting tulang kerja dan keras mendidik anak anaknya masih bisa berusaha membahagiakan anaknya.. dengan ” caranya ”

.
Sesaat.. keinginanku memiliki sepatu bola baru hilang begitu saja. Ternyata semangkuk mie ayam dan esteh di atas meja adalah kebahagiaan yang nyata.
Terima kasih pak. Semoga bapak selalu bahagia sekarang ‘disana”.

Si Sidik Permana

Pak..wes arep mabur. Iki lho pesawate wes disurung mundur. Sambil memasang sealt belt, aku menoleh ke kanan dan tersenyum. Hmm pasti anak itu seneng sekali naik pesawat sama bapaknya. Dan yang lebih menarik perhatianku adalah logat jawane yang medhok dan polos. Sudah lama aku ndak denger anak kecil ngomong boso jowo. Lucu.. nyenengke dan menenangkan jiwa. Pak.. kok ra ndang mabur mabur tho iki.. malah mlaku mlaku adoh men. Dijawab sama bapaknya.. sabar le.. sedelo ngkas mabur .iki nembe ngantri giliran.

Tindak pundi mas?. Kubuka perbincangan sore itu dengan boso jowo. Dengan halus.. si mas menjawab.. ajeng teng poso mas. Wah.. taksih tebih nggih.. mangkeh mandhap balikpapan lajeng lanjut teng palu nggih ?.. kutanya lagi. Nggih mas.. palu ke poso taksih 12 jam perjalanan darat. Lha mase tindak pundi?.. oh. Kulo wangsul teng balikpapan mas ( jawabku ). Lha meniko putrane mas? ( kutanya lagi ). nggih mas. Ajeng kulo ajak teng poso. Ajeng kulo sekolahke teng mriko. ( si mase njawab dengan suara datar..). Loh. Lha mase asline pundi .. njawi ne pundi?.. Si mase mesam mesem.. kulo mboten pernah tinggal teng njowo kok mas.. kulo asli lampung. Hmmm. Jadi malu aku.. nebak tapi salah. Trus.. kutanya lagi.. lha putrane kok boso jowone medok tenan.. kulo kinten tiyang njowo mas..kados kulo. Oh.. teng lampung niku kathah tiyang njowo mas.. koncone anak kulo jowo kabeh. Dadi yo ngomong jowone mlipir mas. ( jawab si mase ).

Tak lama setelah makan nasi kotak yang dikasih mbak pràmugari.. si anak kecil dideket jendela mulai ngantuk.. teklak tekluk..kemudian tidur lelap di senderan tangan bapaknya. Kuambil majalah intisari ditas yang barusan kubeli di airport tadi siang. Kubuka halaman pertama, belum selesai kubaca.. si mase ngajak ngobrol lagi. Mas.. sampun dangu teng balikpapan?.. sampun mas.. lumayan lah. ( kujawab dengan datar dan kututup intisariku ). Lha mase pun dangu teng poso?.. dereng mas.. nembe kok. Sakderenge kulo teng lampung. Amargo lapangan kerja teng lampung sekedhik.. mulane kulo pados damelan teng poso mas. Kulo mung lulusan sma. Lha nek teng lampung.. wontene damelan kangge sing sekolah duwur duwur mas. Sakniki kulo nanem coklat kaliyan karet mas. Lha wulan ngajeng jadwale panen. Mulane kulo pengen njemput anak kulo. Ajeng kulo sekolahke teng poso.

Setelah itu.. si mase cerita masalah keluarga.. gimana dia yang kerja keras banting tulang di poso.. menafkahi keluarga yang jauh di lampung,

Memendam rindu dan kangen ketemu keluarga. Tapi kenyataan hidup bercerita lain..si istri malah ninggalin anaknya. Padahal setiap bulan.. saya selalu mencukupi kebutuhan anak istri saya lho mas. Saya bela belain puasa.. makan seadanya. Yang penting anak saya bisa sekolah. Tapi TUHAN berkehendak lain.. ternyata ibu nya anak saya malah pergi ninggalin saya dan anak saya. Makanya.. saya jemput anak saya.. mau saya sekolahin di poso. Biar pinter.. walaupun cuma orang biasa.. pekerja kasar.. yang penting saya pengen anak saya pinter.. nanti bisa sukses kalo sudah gedhe ( sambil berkaca kaca.. si mase bercerita tentang perjalanan hidupnya ).

Kutarik napas dalam dalam. Didalam hati.. aku bersyukur.. dikaruniai istri yang baik dan anak anak yang sehat dan lucu. Menjelang pesawat mau landing.. si anak terbangun. Pak.. isih suwe pak?..kok ora mudhun mudhun. Kujawab. Sediluk ngkas dek,5 menit lagi. kuulurkan tanganku sambil kutanya.. namanya siapa? disalaminnya tanganku Sidik Permana om. Sambil diciumnya tanganku. Hmm.. pinter ya. Sudah sekolah belum?. Sudah om kelas tk besar. Tak lama setelah pesawat landing.. si anak kebelet pipis.. si bapak bilang. Ayo bapak anterin ke toilet. Nanti ngompol dicelana lho.. EMOHHH.( jawab si sidik )aku isin pak. Mengko wae nek wes neng bandara pipise.. sambil pringas pringis nahan kencing.

Aku cuma mesam mesem lihat polah tingkah si sidik yang lugu itu. Sesampainya di airport kedatangan.. kita berpisah.. saya bergegas ke baggage hall ngambil bagasi . Dan si sidik dan bapaknya belok kiri ke transfer desk. Kujabat tangan si mase dan kubilang Sampeyan bapak yang HEBAT mas. Sampai ketemu lagi mas. Semoga sukses.

“KEAJAIBAN ITU ADA” Kisah Nyata Seorang Air Traffic Controller

November tanggal 13 tahun 2007, kebetulan waktu itu dines pagi di tower.Jam menunjukkan jam 12.15 wita,perut dah mulai krucuk krucuk ,masih tetap ngontrol walau mulut dah mulai meniren ngoceh di 118,1 sejak pagi. ( nunggu bentar lagi yang ‘ngaplus’ siang dateng ‘batinku’). Traffik siang itu lumayan rame ,beberapa pesawat minta pushback,ada yang mau approach di final,ada juga helikopter hilir mudik dari airport ke rig kayak angkot,dan ada satu strip putih ( helicopter HU500 ) mau profcheck katanya. Hmmm touch and go neh.

Kira kira jam 12.20 PKFLJ ( heli ) mulai contact…request start engine. kemudian minta air taxi ke helipad ,dan request touch and go .Setelah ready, he said ( kurang lebih percakapannya seperti ini ) : ‘ Sepinggan Tower ,PKFLJ on helipad 3 ,ready for departure ‘
Tower : PKFLJ take off directon 25 Right hand circuit , right turn after cleared for take off.
PKFLJ : Right turn cleared for take off FLJ.
Sampai dengan detik itu semua normal normal saja, Saya masih ingat,heli itu take off ,up wind leg,trus belok kanan join right down wind. ( aman batinku ). ku alihkan perhatian ke pesawat yang di taxiway dan di final.

Beberapa detik kemudian terdengar ‘calling'( yang saya yakin ) setiap ATC manapun tidak mau mendengarnya .PKFLJ : MAYDAY MAYDAY MAYDAY..Sepinggan Tower PKFLJ engine fail… krsksksksks… . dengan tenang ( walau gemetaran sebenarnya ) kujawab : ROGER mayday..PKFLJ go ahead…PKFLJ: Sepinggan tower …ee… we will landing in open area…krsksksksk….tuttt…TOWER : PKFLJ sepinggan tower confirm will landing in open area?…… dan kulihat heli itu turun di setengah downwind… sampai hilang di balik pepohonan.

Kupanggil heli itu berkali kali berharap ada jawaban dari sang Pilot,
TWR : PKFLJ SEPINGGAN TOWER… ( NO ANSWER )..
TWR : PKFLJ SEPINGGAN TOWER….( semua yang di frekwensi diam beberapa saat )
sampai teman disampingku menepuk punggungku dan berkata ‘ HELI itu sudah jatuh Pong ‘. Saat itu aku terdiam.. “Tidak ada yang selamat jika Helicopter jatuh di darat , teringat kalimat terakhir sang Pilot, jika dia meninggal akulah orang yang terakhir kali berbicara dengan dia”. detak jantung mulai ndak normal…deg deg deg..ku ambil napas dalam dalam.

Sementara diluar suara sirine mobil PKPPK meraung raung ,HT berisik dengan koordinasi antara tower,PK,manager,ADM,security.
Gemetar kaki ini, tapi traffic yang lain masih banyak.. sambil kutenangkan hati dan pikiran, kulanjutkan mengatur pesawat yang lain,disaat yang sama bukan hanya heli itu saja yang harus dilayani,ada yang harus di kasih landing clearance,beberapa pesawat minta taxi , pushback,etc..Mau minta ganti,temen satu shift juga sama sibuknya berkoordinasi.. sampai 15 menit kemudian ,mic kutaruh..diganti sama yang dines siang.

Duduk termenung aku di sofa belakang desk tower. ( ndak ada rest room di tower ).Im down.Aneh memang ,padahal selama proses emergency ,aku hyper focus,aku tetap berusaha sigap,cepat, dan tetap tenang.Teman teman satu grup saat itu juga sangat responsif , cepat menghubungi pihak pihak yang terkait,memberi tahu last position Heli sebelum jatuh ke SAR,PKPPK,juga selalu memonitor perkembangan pencarian heli yang jatuh menit demi menit ,sambil tetap harus melayani traffic yang lain. Tapi setelah semua selesai dan ada kesempatan menghela napas panjang, saat itulah perasaan terberat yang pernah kualami ( mungkin teman teman satu shift pagi itu drop juga ).Di dalam hati aku masih berdoa semoga pilot heli itu masih selamat.

Kuambil HP,niatnya mau telpon istri dirumah. Tapi ndak kuat rasanya mulut ini mau bercerita,akhirnya hanya kukirim sms…’Ma, aku pulang telat ,ada heli jatuh di balikpapan baru,nanti ceritanya’. dia jawab: Iya.
masih termenung di tower, menunggu kabar dari tim PKPPK yang mecari lokasi heli jatuh tadi. Perasaan ndak karuan.

Sejam kemudian,akhirnya kita mendapat kabar bahwa heli itu jatuh di rawa rawa dekat perumahan penduduk dan ajaibnya… 2 pilot on board selamat serta tidak mengalami cedera serius walaupun heli rusak berat sampai terbelah dua. Alhamdulillah, Keajaiban itu ternyata ada.

Sore harinya,sang Pilot ( berdua ) datang ke gedung operasi LLP untuk melaporkan kejadian itu ke management LLP bandara Sepinggan. Kusempatkan datang menemui pilot tersebut di rest room sekedar memastikan bahwa mereka berdua baik baik saja.Kujabat tangan sang pilot yang masih gemetar dan kubilang selamat capt,anda beruntung. Dan dia bilang, terima kasih mas atas bantuannya. ALLOH masih sayang sama kita.

Beberapa hari kemudian KNKT datang, diinvestigasi..diwawancarai ini itu…buat laporan,buka rekaman… hufft. sangat melelahkan.Walaupun dugaan awal penyebab nya adalah karena engine rusak,tapi karena kita yang terlibat di dalam peristiwa itu,kita juga tetap harus patuh kepada aturan.,dan harus bersedia memberikan data data yang dibutuhkan KNKT.
( kurang tahu juga hasil KNKT seperti apa ,mungkin juga engine fail masalahnya)

Perlu sekitar sebulan untuk menghilangkan perasaan trauma terhadap peristiwa itu, ada perasaan tidak nyaman setiap mendengar suara helikopter. Alhamdulillah sekarang sudah mulai terbiasa,dan tetap ndak berani naik helikopter.hehehehe.

lesson learned
Orang bijak bilang..Pengalaman adalah guru yang terbaik.
Setelah peristiwa itu, sebagai seorang controller ,saya harus selalu lebih berhati hati dalam bekerja,lebih responsive,lebih flexible, lebih mendengarkan apa yang pilot sampaikan,selalu memberikan saran yg terbaik buat pilot,dan tentunya lebih tenang saat ‘on mic’.

So,this is what it is like being Air traffic controller for a plane that crashed.20171009_083817.jpg